Ada Bukti Kiamat di Galaksi Lain


London - Para ilmuwan menemukan bukti dari kehancuran masif di sistem tata surya lain. Seperti apa?


Penemuan kehancuran masif sebuah tata surya ini melalui studi pada sebuah bintang yang tengah 'sekarat', demikian dilansir The Age.
Bukti-bukti bekas pada asteroid yang berair memperlihatkan bahwa ratusan juta tahun lalu, sistem planet itu mungkin menampung planet-planet mirip Bumi.
Bintang bernama GD 61 di sistem tata surya yang sekarat ini memiliki cahaya kian pudar. Para astronom mempelajari bintang yang berlokasi 150 tahun cahaya dari Bumi ini.
Pada asteroid berdiameter 90 km yang mengorbit di dekat bintang GD 61, para ilmuwan juga mendeteksi adanya air, magnesium, silikon dan baja.
"Penemuan air ini juga menandakan bahwa dulu di sistem tata surya tersebut mungkin pernah ada planet yang dapat ditinggali," ujar Dr Jay Farihi, dari Institute of Astronomy di Cambridge University, Inggris.
Penelitian ini dipublikasikan di dalam jurnalScience.[sumber: www.inilah.com]

Penelitian Terbaru, Lubang Hitam Ternyata Punya Rambut


Menurut teori yang diungkapkan oleh fisikawan Roy Kerr pada tahun 1963, ia menyatakan bahwa model / gambaran sebuah lubang hitam adalah bersih dan tidak ada fitur mencolok dari sebuah lubang hitam kecuali lubang hitam itu sendiri. Hal inilah yang saat ini menjadi teori yang banyak diyakini. Gambar di atas adalah model lubang hitam menurut Roy Kerr.
Teori yang berbeda diungkapkan oleh Thomas Sotiriou, fisikawan dariInternational School for Advanced Studies(SISSA) yang menyatakan bahwa lubang hitam tidak mungkin seperti itu. Lubang hitam haruslah lebih "kotor". Mengacu pada model lama yang ada (model Roy Kerr), lubang hitam didefinisikan dalam dua kuantitas, yakni massa dan momentum sudut (kecepatan rotasi lubang hitam). Setelah hal pemicunya runtuh atau musnah (seperti bintang bermassa besar) maka ia akan runtuh ke dalam dan menghilang selamanya. yang tersisa hanyalah lubang hitam yang diam dan terlihat tenang dengan bagian tepi yang hampir tidak ada fitur spesifik. Massa dan momentum sudut samping terlihat sama.
Itulah yang menyebabkan fisikawan Thomas Sotiriou menyatakan tidak mungkin lubang hitam seperti itu. "Lubang hitam menurut perhitungan kami memiliki fitur yang mirip seperti rambut di tepinya," ungkap Thomas. Selain Thomas Sotiriou, ada fisikawan lain yang menyatakan hal serupa. Diantaranya adalah John Wheeler yang menyatakan bahwa lubang hitam memiliki rambut. Menurutnya massa dan momentum sudut hanyalah salah satu cara yang diperlukan untuk menggambarkan lubang hitam. "Meskipun model yang dibuat oleh Kerr "botak" yang sesuai dengan Relativitas Umum, tapi tidak sesuai dengan teori Einstein lainnya seperti teoritensor-scalar," tambah Thomas.

"Inilah sebabnya mengapa kami membuat perhitungan baru yang memungkinkan kita untuk memfokuskan diri pada apa yang sebenarnya terjadi di sekitar lubang hitam yang diamati astrofisikawan. Oleh sebab itu perlu ditambahkan 'rambut' pada model lubang hitam Kerr." ungkap Thomas kembali. (sumber: www.astronomi.us)

Mengapa Merkurius & Venus Tidak Punya Satelit?

Tata Surya punya delapan buah planet, dan sebagian besar planet di tata Surya punya penggiring yang disebut satelit. Bumi punya Bulan yang senantiasa menemaninya. Mars punya Phobos dan Deimos. Jupiter si planet gas terbesar di Tata Surya punya 67 satelit alam, sedangkan Saturnus yang cincin indahnya bisa tampak itu punya 150 satelit! Uranus dan Neptunus juga punya satelit yang masing – masing jumlahnya 27 dan 14. Bahkan planet kerdil seperti Pluto dan Eris juga punya penggiring. Tercatat, Pluto yang pada tahun 2006 diklasifikasi ulang sebagai planet katai memiliki 5 buah penggiring.
Dari seluruh planet di Tata Surya, hanya Merkurius dan Venus yang tidak memiliki satelit penggiring. Pertanyaannya, bagaimana sebuah planet bisa memiliki satelit penggiring?
Menurut para astronom, ada beberapa cara sebuah planet bisa memiliki satelit penggiring. Pada saat awal pembentukan Tata Surya, planet mengakresi materi untuk bisa memiliki massa yang cukup untuk menjadi sebuah planet. Nah, diyakini kalau satelit itu merupakan materi yang tidak berhasil diakresi oleh si planet, tapi materi tersebut tetap berada dalam pengaruh gravitasi planet yang baru saja terbentuk.
Sebuah planet juga bisa memperoleh satelit dengan menangkap sebuah obyek dalam hal ini asteroid atau komet yang kemudian terperangkap dalam pengaruh gravitasi si planet. Contohnya adalah satelit Phobos dan Deimos yang adalah asteroid ditangkap Mars.
Dan cara terakhir sebuah planet bisa memiliki satelit adalah lewat tabrakan antara planet dengan obyek lain, dimana sisa tumbukan yang terjadi kemudian terperangkap dalam gravitasi planet dan mulai mengorbit planet tersebut. DIyakini, lewat tabrakan inilah Bumi bisa memiliki Bulan sebagai satelitnya. Diyakini bahwa Bumi pernah ditabrak oleh sebuah obyek sebesar Mars beberapa milyar tahun lalu. Saat terjadi tumbukan ada materi yang kemudian terlontarterperangkap dalam gravitasi Bumi. Materi yang terlontar itu kemudian bergabung dan membentuk obyek yang kemudian kita kenal dengan nama Bulan.

Bagaimana dengan Merkurius dan Venus?
Dari skenario yang ada, tentunya Merkurius dan Venus pun bisa memiliki satelit. Skenario yang ada memungkinkan itu. Tapi kendala terbesar adalah jaraknya yang dekat dengan Matahari.
Skenario yang memungkinkan adalah satelitnya terbentuk pada saat awal pembentukan planet di Tata Surya saat Merkurius dan Venus juga terbentuk atau lewat peristiwa tumbukan dengan obyek lain seperti halnya Bumi – Bulan.
Untuk skenario Merkurius dan Venus menangkap komet atau asteroid yang lewat dan memerangkapnya dalam pengaruh gravitasi mereka juga sangat sulit. Kendalanya ya jarak dengan Matahari dimana gaya tarik Matahari lebih mendominasi sehingga ketika ada komet atau asteroid yang melintas tentunya akan dipengaruhi gravitasi Matahari dan dilahap oleh Matahari.
Jadi hanya dua skenario yang memungkinkan. Dari hasil pemodelan yang dilakukan astronom, diperkirakan Venus memang memiliki satelit akibat tabrakan dengan obyek besar di awal pembentukannya. Tabrakan yang juga menyebabkan si bintang fajar berbalik arah rotasinya.
Tapi, lagi-lagi jaraknya yang dekat dengan Matahari menjadi masalah. Ketika sebuah satelit terbentuk, ia butuh jarak yang tepat untuk bisa memiliki orbit yang stabil untuk mengelilingi planet induknya. Untuk satelit di kedua planet ini, jarak yang tepat itu sulit ditemukan karena keberadaan mereka yang dekat dengan Matahari menyebabkan pengaruh gravitasi Matahari mendominasi. Akibatnya satelit yang berada pada kedua planet ini memiliki orbit yang tidak stabil. Satelit yang berada jaraknya agak jauh dari Merkurius dan Venus kemudian justru ditangkap oleh Matahari. Jika satelit berada dekat dengan kedua planet tersebut, justru hancur karena gaya gravitasi dan gaya pasang surut planet. Dengan kata lain, planet akan jatuh menabrak Merkurius dan Venus.
Zona di Merkurius dan Venus dimana satelit bisa memiliki orbit yang stabil selama milyaran tahun sangatlah tipis sehingga sulit bagi keduanya untuk mempertahankan keberadaan satelit dalam jangka waktu lama. Bahkan untuk bisa menang melawan pengaruh Matahari pun sulit. Singkat cerita, kalau ada satelit di kedua planet ini maka satelit-satelitnya sudah terlebih dulu ditangkap Matahari.
Pada akhirnya, keduanya pun tidak memiliki satelit.
Sumber: www.langitselatan.com

Teori Baru, Bulan Adalah Satelit Venus yang Diambil Bumi


Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang termasuk ilmu astronomi. Baru-baru ini ilmuwan Dr Dave Stevenson dariCaltech Universitymengungkapkan asal-usul Bulan Bumi. Menurutnya Bulan adalah satelit Venus yang diambil oleh Bumi dengan menggunakan gaya gravitasinya. Teori ini bertentangan dengan teori terkenal tentang asal-usul terbentuknya Bulan yang menyatakan bahwa Bulan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu ketika sebuah obyek seukuran planet menabrak Bumi dengan kecepatan tinggi saat planet Bumi baru terbentuk. Teori ini dikenal sebagai teoriGiant Impact.Klik di siniuntuk info lebih lanjut.
Namun teori yang dipresentasikan oleh Dr Dave Stevenson ini bukan tanpa celah dan kelemahan. Batuan Bulan yang dibawa oleh misi Apollo ternyata memiliki komposisi isotop yang serupa dengan Bumi. Jika benar Bulan adalah milik Venus, mengapa isotopnya bisa begitu mirip dengan Bumi?. "Jika Bulan dan Bumi memiliki isotop yang sangat mirip, itu akan membuat teori Dr Dave akan sulit untuk dipertahankan," ucap Alex Halliday dariOxford University. "Kesamaan isotop itu membuktikan bahwa materi pembentuk Bulan memang berasal dari Bumi atau memang materi Bulan bercampur dengan materi Bumi," tambahnya.
"Walau bagaimanapun, teori Dr Dave Stevenson sangat menarik. Venus dan Bumi memiliki banyak kemiripan termasuk massanya. Jika Bumi punya Bulan mengapa Venus tidak ??," imbuh Alex Halliday. Saat ini teori terkuat masih dipegang oleh teoriGiant Impact. Tapi masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Obyek apakah sebenarnya yang menabrak Bumi sehingga melahirkan Bulan??. Sumber:www.astronomi.us

Ditemukan Kembali: Lengan Bimasakti yang ‘Hilang’

Para astronom tidak bisa melihat tampang Galaksi kita (yang dinamai Bimasakti) karena mereka (dan juga kita) berada di dalamnya dan melihat ke arah luar.Namun, mereka bisa mengetahui bentuk Bimasakti dengan cara menyelidiki bintang-bintang anggotanya dan mengukur jaraknya dari kita. Dengan penyelidikan dan pengukuran seksama, para astronom berkesimpulan Galaksi Bimasakti berbentuk spiral dengan banyak lengan yang melingkar. Meski demikian, berapa jumlah lengan spiral Bimasakti telah diperdebatkan selama bertahun-tahun.
Para astronom pada tahun 1950-an memanfaatkan teleskop radio untuk memetakan Bimasakti. Mereka memusatkan pengamatan pada awan-awan gas di Bimasakti, tempat pembentukan bintang. Hasil pengamatan ini memperlihatkan empat lengan utama. Sementara itu, teleskop ruang angkasa Spitzer milik NASA menyapu Galaksi dan mencari bintang-bintang yang memancarkan sinar inframerah. Mata kita tidak bisa melihat cahaya inframerah, tapi bintang-bintang seperti Matahari memancarkan cahaya ini. Pada tahun 2008 diumumkan bahwa Spitzer telah mengamati sekitar 110 juta bintang, tapi hanya menemukan dua lengan spiral.
Kini, penelitian mengenai bintang-bintang masif yang dilakukan selama 12 tahun telah menguatkan kesimpulan bahwa Galaksi kita memang mempunyai empat lengan spiral, sebagaimana yang telah kita yakini 60 tahun yang lalu. Penemuan ini mengakhiri perdebatan yang disebabkan oleh foto-foto dari teleskop Spitzer yang hanya memperlihatkan dua lengan. “Bimasakti adalah galaksi tempat tinggal kita. Dengan mempelajari bentuknya kita bisa memahami galaksi spiral lainnya. Misalnya, kita bisa mengetahui di bagian mana di galaksi-galaksi tersebut bintang-bintang dilahirkan dan mengapa demikian,” kata Profesor Melvin Hoare dari Universitas Leeds. Beliau adalah salah satu astronom yang menemukan kembali lengan spiral Bimasakti yang ketiga dan keempat.
Fakta Menarik:Tata Surya kita tidak terletak di pusat Galaksi Bimasakti ataupun di tepinya. Kita berada di bagian luar lengan spiral yang disebut Lengan Orion. Tata Surya kita membutuhkan waktu selama 200 juta tahun untuk menyelesaikan satu kali putaran mengelilingi pusat Galaksi.

sumber: Universe Awareness Space Scoop

Mengapa Langit Gelap di Malam Hari?

Seringkali, pertanyaan yang tampak mudah untuk dijawab justru membantu para ilmuwan untuk memahami hal-hal penting mengenai cara kerja alam semesta.

Contohnya, mengapa langit gelap di malam hari? Tampaknya memang pertanyaan yang mudah. Tapi ada suatu waktu ketika para astronom pun harus menggaruk-garuk kepala untuk bisa menemukan jawabannya. Itu terjadi dulu sekali. Sekarang mereka sudah tahu kalau ada wajah Bumi yang tidak berhadapan dengan Matahari. Para peneliti juga berpikir kalau alam semesta terus ada selamanya karena alam semesta tak terbatas. Tapi, jika alam semesta tak terbatas maka bintang harusnya akan dapat ditemukan di setiap penjuru langit malam. Artinya langit akan sangat terang.

Untuk memahami mengapa di dalam alam semesta yang tak terbatas bintang seharusnya memenuhi langit malam, gambarannya seperti ketika kita berdiri di tengah hutan lebat. Sekarang pilihlah arah secara acak dan berjalanlah ke arah itu dalam garis lurus. Saat berjalan kamu akan melihat hutan terus ada dan seperti tak ada habisnya. Jika kondisi ini terjadi pada semua area yang kamu pilih, maka kamu akan berharap semoga ada pohon yang menghalangi jalanmu. Pohonnya mungkin berada sangat jauh, tapi akan sangat aneh bukan kalau tidak ada satu pun pohon di jalan yang kamu pilih?

Nah untuk langit malam, sebagian astronom berpikir ada awan debu yang sangat besar seperti yang ada di foto yang dapat menghalangi cahaya dari sebagian bintang agar langit malam tetap gelap. Akan tetapi para ahli astronomi saat ini telah mengetahui bahwa alam semesta tidaklah benar-benar besar tak berhingga sama sekali. Oleh karena itu maka langit malam menjadi gelap.

Cerita moral tulisan ini adalah, jangan takut untuk mengacungkan tanganmu di kelas dan bertanya. Tidak ada pertanyaan yang bodoh! Untuk menjadi ilmuwan yang baik, kamu harus terus bertanya tentang apapun di sekelilingmu.

Yuk ikut terlibat:Ada banyak situs web dimana kamu bisa menanyakan pertanyaanmu tentang alam semesta kepada para astronom. Di bawah adalah beberapa situs favorit kami :


1.Ask an Astronomer for Kidsdari NASA

2.Ask an Astronomer, yang dikelola oleh Astronomy Department of Cornell University, USA

3.Tanya AII, yang dikelola oleh astronomi in indo


Sumber: Space Scoop Universe Awareness. Saduran bahasa Indonesia yang sama dapat dilihat di sini

Bumi


Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Jarak antara Bumi dengan matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU (ing: astronomical unit). Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer.
Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan mesosfer dan melindungi bumi dari sinar ultraungu. Perbedaan suhu permukaan bumi adalah antara -70°C hingga 55°C bergantung pada iklim setempat. Sehari di dibagi menjadi 24 jam dan setahun di bumi sama dengan 365,2425 hari. Bumi mempunyai massa seberat 59.760 milyar ton, dengan luas permukaan 510 juta kilometer persegi. Berat jenis Bumi (sekitar 5.500 kilogram per meter kubik) digunakan sebagai unit perbandingan berat jenis planet yang lain, dengan berat jenis Bumi dipatok sebagai 1.
Bumi mempunyai diameter sepanjang 12.756 kilometer. Gravitasi Bumi diukur sebagai 10 N kg-1 dijadikan unit ukuran gravitasi planet lain, dengan gravitasi Bumi dipatok sebagai 1. Bumi mempunyai 1 satelit alami yaitu Bulan. 70,8% permukaan bumi diliputi air. Udara Bumi terdiri dari 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbondioksida, dan gas lain.
Bumi diperkirakan tersusun atas inti dalam bumi yang terdiri dari besi nikel beku setebal 1.370 kilometer dengan suhu 4.500°C, diselimuti pula oleh inti luar yang bersifat cair setebal 2.100 kilometer, lalu diselimuti pula oleh mantel silika setebal 2.800 kilometer membentuk 83% isi bumi, dan akhirnya sekali diselimuti oleh kerak bumi setebal kurang lebih 85 kilometer.
Kerak bumi lebih tipis di dasar laut yaitu sekitar 5 kilometer. Kerak bumi terbagi kepada beberapa bagian dan bergerak melalui pergerakan tektonik lempeng (teori Continental Drift) yang menghasilkan gempa bumi.
Titik tertinggi di permukaan bumi adalah gunung Everest setinggi 8.848 meter, dan titik terdalam adalah palung Mariana di samudra Pasifik dengan kedalaman 10.924 meter. Danau terdalam adalah Danau Baikal dengan kedalaman 1.637 meter, sedangkan danau terbesar adalah Laut Kaspia dengan luas 394.299 km2.
Sumber:www.isi-bumi-kita.blogspot.com

Mengurangi Emisi Bisa Menyelamatkan Bumi Dari Alien

Reduksi emisi gas rumah kaca bisa memberi dampak di luar dugaan. Selain menyelamatkan manusia dan makhluk hidup lain dari dampak jangka panjang berupa bencana dan kepunahan, pengurangan emisi juga bisa menghindarkan populasi Bumi dari serangan alien.
Bagaimana bisa? Ilmuwan NASA dan Pennsylvania State University menuturkan, emisi gas rumah kaca menyebabkan perubahan atmosfer Bumi yang bisa dideteksi dari luar angkasa. Alien bisa mengobservasi dan berpikir, ada peradaban yang telah tumbuh di luar batas di Bumi. Hasil observasi akan kondisi atmosfer Bumi itu bisa menuntun alien untuk datang ke Bumi.
Jika kedatangan itu bisa dipastikan tak merugikan, pasti tak masalah. Tapi bagaimana bila makhluk cerdas itu bermaksud menyerang, jijik pada manusia karena telah menghancurkan Bumi?
Sejauh ini, ilmuwan dari dua lembaga tersebut baru menyusun beberapa kemungkinan jika alien datang ke Bumi. Skenario paling bagus, si alien tak melancarkan serangan. Manusia justru bisa belajar dari alien tentang cara mengatasi kelaparan dan melawan penyakit. "Dalam skenario ini, manusia tidak hanya memperoleh kemenangan moral karena mengalahkan alien, tapi punya kesempatan untuk mendayagunakan kecerdasan yang dimiliki makhluk ekstra terestrial itu," tulis ilmuwan dalam papernya, seperti dikutip Daily Mail, Jumat (19/8/2011).
Skenario kedua adalah skenario netral. Dalam hal ini, manusia tak bisa merasakan perbedaan karena adanya alien sebab hambatan komunikasi. Ada kemungkinan alien menjadi terlalu birokratis dan akhirnya malah menggangu manusia.
Sementara, skenario terburuk, alien menyerang manusia. Manusia diperbudak oleh alien sementara mereka meningkatkan kapasitas untuk ekspansi. Dampak akhirnya, kehancuran secara global dan bisa menghapus seluruh populasi manusia.
Hingga kini, belum ada kepastian, skenario mana yang akan terjadi. Tak heran, sebab kepastian tentang adanya makhluk cerdas di luar angkasa juga belum ada hingga detik ini. Namun, ilmuwan mengungkapkan, sebaiknya manusia melakukan langkah preventif.
Dalam laporannya, ilmuwan menulis, "Manusia kini memasuki periode dimana ekspansi peradaban bisa terdeteksi alien, sebab ekspansi kita mengubah kompisisi atmosfer lewat emisi gas rumah kaca. Skenario ini memacu kita membatasi pertumbuhan dan mengurangi dampak ekosistem global."
Lebih lanjut, ilmuwan memberikan saran, "Akan menjadi penting bagi kita untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebab perubahan atmosfer bisa terdeteksi dari planet lain."
Intinya, sebisa mungkin selamatkan Bumi dari serangan alien dengan mengurangi emisi. Terlihat seperti fiksi ilmiah? Mungkin saja. Tapi, reduksi emisi gas rumah kaca memang harus dikurangi. Tim ilmuwan yang mengembangkan skenario invasi alien ini dipimpin oleh Shawn Domagal-Goldman dari NASA. Laporannya juga dipublikasikan di NASA.
Sumber:www.kompas.com

Misi Manusia Ke Mars Akan Disiarkan Secara Langsung Di Televisi


Tak lama lagi misi manusia ke planet Mars segera terjadi. Sebelum mengirimkan manusia ke planet merah tersebut, Mars One pada 2018 akan lebih dulu mengirimkan misi tak berawak ke Mars untuk menempatkan sebuah satelit.Satelit yang ditempatkan di planet Mars itu bertugas untuk mengirimkan video streaming ke Bumi.
Upaya ini dimaksudkan agar pada misi Mars One selanjutnya, jutaan mata manusia di Bumi bisa melihat pendaratan manusia pertama di permukaan Mars.Selain itu, dengan adanya satelit tersebut, para penduduk Bumi akan bisa melihat tanda-tanda kehidupan alien dan suhu ekstrem di planet Mars.
Satelit yang dibuat oleh Surrey Satellite Technology Ltd (SSTL) ini akan diluncurkan pada Januari 2018. Mars One telah membayar kepada SSTL sebesar US$60.000 untuk merancang pembuatan satelit geostasioner pertama di planet Mars.
"Nanti, setiap orang yang memiliki akses Internet bisa melihat keadaan cuaca di planet Mars. Misi penempatan satelit itu akan dilaksanakan pada Januari 2018, lebih cepat dua tahun dari misi pendaratan manusia di Mars," kata Bas Lansdorp, CEO Mars One.
Dia menambahkan, misi tak berawak ini dirancang untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan informasi tentang planet Mars. Sebelum pada akhirnya Mars One benar-benar mengirimkan Manusia pada 2020.
Saat ini, sudah ada 200.000 orang yang mendaftar di misi sekali jalan atau "berani mati" ke planet Mars. Nantinya, akan diseleksi empat orang "beruntung" yang berkesempatan mengukir sejarah sebagai manusia pertama mendarat di Planet Merah.
Sebelum memilih empat orang itu, perusahaan akan membagi seluruh peserta ke dalam 40 kelompok untuk dilakukan pelatihan. Lalu, pada 2015, akan terpilih empat orang untuk melakukan pelatihan dan isolasi hingga 2020.
Perusahaan memprediksi, untuk sampai ke permukaan planet Mars, manusia akan melakukan perjalanan ruang angkasa selama sekitar 200 hari. Lansdrop misi berani mati itu dapat terlaksana jika perusahaan sudah memiliki dana sebesar US$6 miliar, atau setara Rp66 triliun.
Untuk mendapatkan dana sebesar itu, Mars One akan bekerja sama dengan stasiun televisi agar bisa menyiarkan secara langsung kehidupan manusia di Mars. "Para pelamar di misi 'berani mati' telah setuju sisa-sisa kehidupannya disiarkan melalui program reality show di televisi," ujarnya.
Sumber : viva.co.id

Walau Dekat Matahari Suhu Atmosfer Venus Minus 169 Derajat Celcius


Wahana antariksa Eropa yang mengorbit planet venus,Venus Express, menemukan hal mengejutkan di atmosfer planet tersebut yaitu adanya lapisan atmosfer yang sangat dingin dengan suhu minus 169 derajat Celcius. Lapisan atmosfer tersebut berada sekitar 75 mil (120 km) di atas permukaan Venus.
Dulu astronom mengira bahwa lapisan atmosfer Venus sangat panas. Namun ini fakta baru sekaligus aneh yang ditemukan. Atmosfer yang terdiri dari karbon dioksida tersebut dapat berubah menjadi beku seperti es atau salju, ungkap ilmuwan.
Meskipun Venus lebih dekat dengan Matahari jika dibandingkan dengan Bumi, banyak lapisan atmosfer di Venus yang lebih dingn daripada atmosfer Bumi. Lapisan atmosfer dingin tersebut ada di sepanjangplanet's terminator(garis pemisah antara sisi siang dan sisi malam dari planet Venus).
"Kondisi temperatur di siang dan malam hari di ketinggian 120 km sangat berbeda sekali, sehingga diplanet's terminatorkita bisa berada dalam kondisi transisi diantara panas dan dingin," ungkap Arnaud Mahieux dariBelgian Instituteselaku penulis penelitian ini. "Temuan ini sangat baru, dan kita masih perlu meneliti dan memahami apa dampak yang ditimbulkannya," ucap Hakan Svedhem ilmuwan dariESA's Venus Express project. "Tapi itu istimewa sebab kita tidak akan melihat hal yang sama terjadi pada atmosfer Bumi atau Mars yang memiliki komposisi kimia dan kondisi suhu yang berbeda," tambahnya.sumber:www.astronomi.us

Venera 13, Wahana Pertama yang Berhasil Ambil Foto Berwarna Permukaan Venus


Wahana pesawat luar angkasa buatan manusia yang berhasil mengejutkan dengan mendarat dan sekaligus mengambil foto berwarna permukaan planet Venus adalah wahana milik Uni Soviet, Venera 13. Wahana tersebut berhasil mendarat dan mengambil foto permukaan planet Venus pada 1 Maret 1982.
Perlu diketahui bahwa planet Venus merupakan planet ke-dua terdekat dengan Matahari setelah Merkurius yang jaraknya dengan Matahari sekitar 108 juta km. Keberhasilan wahana Venera 13 waktu itu sungguh sangat mengejutkan sebab karena sangat dekat dengan Matahari, suhu permukaan planet Venus bisa mencapai 465 derajat Celcius.
Foto permukaan planet Venus yang diambil Venera 13.Klikgambar untuk memperbesar. Image credit: NASAWahana pertama buatan manusia yang pertama kali terbang menuju Venus adalah Mariner 2 buatan Amerika Serikat yaitu pada 14 Desember 1962 dan didapat hasil bahwa Venus merupakan planet panas dengan tekanan yang tinggi dan awan tebal menutupi permukaan.
Uni Soviet sendiri pertama kali berhasil mengirimkan wahananya ke Venus pada 18 Oktober 1967 dengan wahana Venera 4 dan wahana tersebut berhasil mengirimkan informasi kembali ke Bumi saat memasuki atmosfer Venus. Wahana Venera 9 merupakan wahana pertama yang berhasil mengirimkan foto permukaan planet Venus ke Bumi namun dalam foto hitam putih dan Venera 9 sendiri rusak akibat tidak mampu menghadapi kerasnya tekanan dan panas di sana. 7 tahun setelah peluncuran Venera 9, pada 1 Maret 1982, wahana Venera 13 berhasil mengambil foto/ gambar berwarna pertama dari permukaan Venus.

Mengenal objek antariksa: star cluster (gugus bintang)

Star cluster: Gugus bintang, adalah kelompok bintang yang terjadi dekat satu sama lain dalam ruang, tampaknya memiliki usia kira-kira sama, dan karena itu, tampaknya memiliki asal mula yang sama.
Gugus bintang biasanya diklasifikasikan ke dalam salah satu dari dua besar sub-kelompok, galactic star clusters (gugus bintang galaksi) dan globular cluster (gugus bintang bola).
Cluster galaksi kadang-kadang juga dikenal sebagai cluster terbuka.
Para astronom telah mengidentifikasi ribuan gugus bintang di galaksi Bima Sakti, tetapi tidak lebih dari sekitar 200 gugus bintang bola.
Dua jenis gugus bintang yang ditemukan di Bima Sakti berbeda satu sama lain dalam beberapa cara.
Pertama, gugus bintang galaksi terjadi di bidang galaksi, sedangkan gugus bola ditemukan di luar bidang galaksi, yaitu di wilayah yang dikenal sebagai halo galaksi.
Kedua, gugus bintang bola cenderung jauh lebih besar daripada galaksi star clusters dengan rata-rata beberapa ribu untuk satu juta bintang di bekas dan beberapa ratus bintang di kedua.
Bahkan, beberapa cluster galaksi berisi tidak lebih dari setengah lusin bintang. Mungkin yang paling terkenal dari semua cluster galaksi adalah Pleiades, atau Seven Sisters.

Pengelompokan ini terdiri dari enam atau tujuh bintang seperti yang terlihat oleh mata telanjang (tergantung pada keakuratan mata pengamat), tapi lebih banyak jumlah bintang yang terlihat jika dilihat oleh teleskop.
Ketiga, gugus bintang bola, seperti namanya, cenderung memiliki bentuk bulat yang agak jelas dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari bintang di pusat bola.
Sebaliknya, cluster galaksi, sebagai nama alternatif mereka juga menunjukkan, cenderung lebih terbuka bentuknya dan kurang dalam “bentuk yang lebih umum”.
Keempat, komposisi bintang yang ditemukan dalam setiap jenis cluster adalah sangat berbeda.
Bintang-bintang yang membentuk gugus bintang galaksi cenderung terdiri dari hidrogen (lebih dari 90%) dan helium (hampir 10%), dengan jumlah kecil dari unsur-unsur lebih berat (kurang dari 1%).
Bintang di gugus bintang bola, di sisi lain, berisi bahkan jumlah yang lebih kecil dari unsur-unsur yang lebih berat.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa bintang-bintang di gugus bintang galaksi jauh lebih muda daripada di gugus bintang bola.
Ketika yang terakhir dibentuk, alam semesta masih terdiri hampir seluruhnya dari hidrogen dan helium, sehingga itu adalah satu-satunya unsur yang digunakan dalam pembentukan gugus bintang bola.
yang kemudian dalam sejarah alam semesta, beberapa elemen yang lebih berat telah dibentuk dan hadir pada pembentukan gugus bintang galaksi.
Sumber:http://arjip.wordpress.com/2011/09/07/mengenal-objek-antariksa-star-cluster-gugus-bintang/

Bintang Terbesar Dalam Sistem Bintang Ganda Eta Carinae Siap Meledak


Bintang terbesardalam sistembintang ganda Eta Carinaeyangmerupakanbintang terbesardan tidak stabilyangmendekati akhirmasa hidupnya.Sekira 150tahun yang lalubintang tersebut memancarkanmateri berupa awan besardalam bentukkhasyang dikenal sebagaiNebulaHomunculus.Eta Carinaeadalahsalah satu bintangterdekatdengan Bumiyang akan meledakdalamsupernovadalam waktuyang relatifdekat(kira-kirasatu jutatahun ke depan).sumber: astronomi.us

Supernova SN2010jl, Supernova Paling yang Pernah DItemukan


Observasi yang dilakukan denganNASA's Chandra X-ray Observatory, memberikan bukti baru bahwa gelombang kejut yang dihasilkan oleh supernova mampu menembus kumpulan gas yang berada disekitar bintang yang meledak. Penemuan ini dapat membantu para astronom mengatahui mengapa beberapa ledakan supernova lebih kuat dari pada supernova yang lain. Pada 3 November 2010, sebuah supernova ditemukan di galaksi UGC 5189A yang terletak 160 juta tahun cahaya dari Bumi dengan enggunakan data dariAll Sky Automated Survey Telescopedi Hawai. Gambar komposit dari UGC 5189A menunjukkan data sinar-X dalam warna ungu dan data optik dari telekop Hubble dalam warna merah, hijau, dan biru. SN 2010jl adalah bagian atas galaksi dengan cahaya sinar- X yang sangat terang. Dikutip dari spacedaily.com, Selasa (22/05/2012), Tim peneliti menggunakanNASA's Chandra X-ray Observatoryuntuk mengobservasi supernova ini pada bulan Desember 2010 dan Oktober 2011. Supernova ini adalah satu supernova yang paling terang dari supernova lain yang pernah dideteksi dengan sinar-X. Dengan cahaya optik, SN 2010jl 10 kali lebih terang dari pada tipe supernova lain yang berasal dari hasil ledakan bintang masif. Dan ini masuk ke dalam kelompok supernova paling terang yang saat ini diketahui dengan survey optik. Penjelasan berbeda diusulkan untuk menjelaskan energi supernova ini termasuk interaksi gelombang ledakan supernova dengan kepadatan materi disekitar bintang yang akan meledak. Radioaktif dihasilkan dari ketidakstabilan dari supernova itu (dipisu oleh konversi sinar gamma menjadi partikel dan anti anti partikel), dan emisi dari inti bintang dengan medan magnet kuat yang tidak biasa. Data yang diambil dariNASA's Chandra X-ray Observatorymenunjukkan bahwa sinar-X dari gelombang ledakan supernova tersebut diserap oleh kumpulan gas disekitarnya. Dan kumpulan gas tersebut berasal dari bintang masih sebelum ia meledak.
sumber: astronomi.us

Astronom Berhasil Tangkap Gema Cahaya dari Supernova SN 2009ig


Astronom berhasil mendeteksi dan menemukan gema cahaya dari materi yang terhempas akibat ledakan supernova SN 2009ig. Material yang memantulkan gema cahaya yaitu debu dan gas diperkirakan berada sangat dekat dengan pusat ledakan. Bisa dianalogikan bila gema suara yang biasa kita dengar di Bumi akan terdengar ke telinga kita beberapa kali saat gelombang suara tersebut memantul dari dinding ataupun obyek di sekitar kita. Suara gema tersebut akan lebih lemah dari suara aslinya sebab membutuhkan jalan yang lebih panjang untuk sampai ke telingan kita. Begitu pula dengan gema cahaya yang memiliki cara kerja yang hampir sama dengan gema suara. Sinar langsung dari ledakan supernova tersebar melalui partikel di galaksi Bima Sakti dan ditangkap oleh Bumi. Seperti pada gema suara, waktu tunda dan aplitudi gema cahaya sangat tergantung pada jarak antara sumber dengan permukaan reflektor yang dalam hal ini adalah materi debu dan gas. Supernova SN 2009ig ditemukan kurang dari satu hari setelah meledak olehLick Observatory Supernova Searchpada tahun 2009. Supernova tersebut berada di galaksi NGC 1015 pada jarak 127 juta tahun cahaya di konstelasi Cetus. Pengamatan yang dilakukan tahun 2010 dengan menggunakan teleskop Kitt Peak diketahui bahwa Supernova tersebut telah memudar 10.000 kali dari kecerahan puncaknya. "Kami dapat mempelajari bagaimana unsur-unsur radioaktif yang dihasilkan meluruh seiring dengan waktu" ungkap Peter Garnavich, profesor Fisika dariUniversity of Notre Dame, selaku peneliti utama dalam studi ini. Supernova SN 2009ig diolongkan pada supernova 1a dimana ia berasal dari ledakan termonuklir dari inti bintang katai putih. Supernova tipe 1a memiliki tingkat kecerahan yang tinggi dan digunakan oleh astronom untuk mengukur tingkat percepatan ekspansi alam semesta.

Supernova 1987A, Supernova Dingin Penghasil Debu Antariksa


Dengan menggunakan teleskop Herschel, astronom megamati sisa-sisa ledakan supernova 1987A dan hasilnya mereka menemukan bahwa di sana banyak terdapat molekul gas dan debu dengan suhu yang sangat dingin. Hal ini akan dapat menjelaskan mengapa luar angkasa penuh dengan debu dan molekul gas. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Mikako Matsuura dalam pertemuan astronomi nasional di St Andrews Jum'at 5 Juli 2013 lalu. Diketahui bahwa pada tahun 1987, sebuah bintang masif di galaksiLarge Magellanic Cloudyang berjarak 170 ribu tahun cahaya dari Bumi meledak dan menimbulkan ledakan Supernova dahsyat. Energi yang dipancarkan oleh supernova itu diyakini sebesar seribu juta kali lebih besar dari energi yang dikeluarkan oleh Matahari kita selama satu tahun. Setelah 25 tahun berselang, astronom mengamatinya dengan teleskop Herschel dan teleskop ALMA. Mereka menemukan banyak sekali molekul dingin dan debu.

"Ledakan supernova kuat pada 1987 membentuk plasma yang sangat panas. Kemudian gas menjadi dingin hingga mencapai suhu -250 sampai -170 derajat Celcius. Itu sangat dingin seperti es dipermukaan Pluto. Gas itu kemudian berubah menjadi molekul dan beberapa diantaranya bahkan berubah menjadi butiran debu yang padat. Supernova kini telah menjadi dingin seperti freezer," ungkap Dr. Matsuura. Hasil pengamatan dengan teleskop Herschel menyimpulkan bahwa supernova tersebut menghasilkan debu dan bahan padat yang setara dengan 250.000 kali massa Bumi atau tiga perempat massa Matahari kita. Sebagian besar debu kemudian tersebar dan kembali membentuk bintang dan planet. Kami sangat terkejut dengan molekul gas dan debu dalam jumlah yang sangat banyak yang dihasilkan oleh Supernova 1987A. Selain itu supernova tersebut juga menghasilkan molekul karbon monoksida yang setara dengan sepersepuluh dari massa Matahari.
sumber: (astronomi.us)

Haumea, Planet Kerdil dengan Periode Rotasi Tercepat di Tata Surya

Pada Maret 2003, sekelompok tim astronom yang dipimpin oleh astronom Mike Brown menemukan sebuah obyek antariksa yang ukurannya lebih kecil dari Pluto namun lebih besar dari asteroid di sekitar daerah Sabuk Kuiper di belakang orbit Pluto. Awalnya obyek itu diberi nama 2003 EL61 dan dinyatakan bahwa ia termasuk dalam obyek Sabuk Kuiper sampai akhirnya olehInternational Astronomical Uniondiklasifikasikan kedalam kategori planet kerdil ke lima di tata surya setelah Ceres, Pluto, Eris, dan Makemake. Dari hasil pengamatan pada tahun 2005, ternyata planet kerdil 2003 EL61 atau yang sering disebut dengan Haumea, mempunyai dua satelit alam (bulan) yang diberi nama Hi'iaka dan Namaka. Untuk sekali mengorbit Matahari, Haumea membutuhkan waktu 285 tahun. Saat ini astronom masih kesulitan untuk mengukur tingkat massa dan kepadatan disebabkan jaraknya yang relatif jauh dari Bumi dan obyeknya yang kecil. Menurut pengematan mereka, Haumea memiliki besar sepertiga ukuran Pluto dengan diameter 1.960 km pada axis terpanjang dan 996 km di axis terpendek. Dalam menyelesaikan sekali periode rotasi, Haumea membutuhkan waktu 4 jam dan ini sekaligus mencatat rekor sebagai obyek dengan rotasi tercepat di tata surya. Periode rotasi yang cepat itu membuat ilmuwan berasumsi bahwa bentuk Haumea yang lonjong disebabkan oleh benturan yang terjadi sebagai akibat dari hantaman obyek antariksa lain yang menyebabkan Haumea berputar cepat dan membentuknya menjadi lonjong / elips. Akibat tabrakan itu juga yang membentuk dua satelit planet kerdil itu. Astronom menyatakan bahwa hampir seluruh struktur dari Haumea terdiri dari batuan. Satelit terbesar Haumea, Hi'iaka membutuhkan waktu 49 hari untuk sekali mengorbit Haumea sedangkan satelit yang lebih kecil, Namaka memerlukan waktu 18 hari. Diperkirakan kedua satelit memiliki struktur yang didominasi oleh es.

Medan Magnet Bintang Katai Merah Bisa Menghancurkan Atmosfer Planet di Sekitarnya

Red Dwarf stars (Bintang Katai/ Kerdil Merah) merupakan jenis bintang yang paling banyak dijumpai di galaksi Bima Sakti. Bintang tersebut mencapai 75 % dari total bintang di galaksi kita. Jika ada planet di sekitar bintang katai merah, maka ada kemungkinan kehidupan bisa terjadi di sana. Tetapi menurut tim astronom yang dipimpin oleh Dr Aline Vidotto dariUniversity of St Andrewshal seperti itu tidak sepenuhnya benar. Mereka meyakini bahwa medan magnet dari bintang katai merah dapat menghantam planet di sekitarnya dan menyebabkan planet banyak terkena terpaan radiasi dari luar angkasa. Dr Vidotto menyampaikan hal ini dalam pertemuan astronomi nasional di St Andrews pada 2 Juli 2013 lalu. Setiap planet kecil yang mengorbit bintang katai merah, akan melindungi diri dari gravitasi bintang tersebut. Massa yang rendah dari bintang ini membuat tarikan gravitasi seperti gravitasi planet seukuran Bumi mampu membuat bintang itu bergerak sebagaimana planet yang mengorbitnya. Gerakan ini menyebabkan adanya pergeseran garis pada spektrum bintang yang bisa kita deteksi dengan menggunakan teleskop. Bintang katai merah memiliki suhu yang lebih dingin dari Matahari sehingga keberadaan zona layak huni (Goldilocks) bisa ada dan berkembang. Planet yang berada pada zona ini sangat mungkin untuk memiliki air dalam wujud cair di permukaannya. Hal ini membuat planet yang ada dekat bintang katai merah menjadi target dalam pencarian planet mirip Bumi di galaksi Bima Sakti. Namun ada faktor lain yang membuat planet tersebut menjadi planet layak huni yaitu ketebalan atmosfer yang dimilikinya. Dalam miliaran tahun, dampak partikel bermuatan di luar angkasa dapat mengikis atmosfer suatu planet. Planet dengan medan magnet yang relatif kuat seperti Bumi mampu membelokkan partikel-partikel bermuatan seperti ini. Hal itu berlangsung di Magnetosfer. Sebagian besar partikel bermuatan tersebut berasal dari angin surya yang dihembuskan oleh bintang induk (Matahari). Tekanan dari partikel-partikel ini menekan perisai magnetosfer planet sehingga setiap terjadi angin surya yang kuat, tekanan tinggi terjadi di magnetosfer. Pada Bumi magnetosfer biasanya melebar hingga 70.000 km. Astronom menemukan fakta bahwa pada bintang katai merah yang berusia relatif muda, akan memiliki medan magnet yang lebih kuat sehingga sangat berdampak pada planet yang mengorbit di sekitarnya. Tekanan yang ekstrim dari medan magnet ini akan mengikis atmosfer planet dari waktu ke waktu. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jika Bumi berada pada bagian tepi dari zona Goldilocks dari bintang katai merah berusia muda, seperti pada Bumi yang mengorbit Matahari, maka magnetosfer akan melebar tidak lebih dari 35.000 km bahkan magnetosfer tersebut bisa hancur. Agar bisa bertahan, Bumi membutuhkan medan magnet yang lebih kuat atau berjarak lebih jauh dari bintangnya namun hal ini bisa menyebabkan kondisi yang tidak memungkinkan untuk adanya air berwujud cair disebabkan oleh suhu yang terlalu dingin. Seiring dengan usia bintang yang bertambah, medan magnet akan melemah dan membuat atmosfer planet yang mengorbit bintang tersebut mampu bertahan. "Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa bintang katai merah dengan periode rotasi yang lebih lama sekitar satu sampai beberapa bulan akan memiliki medan magnet yang lebih kuat dan mampu menekan magnetosfer planet dalam zona Goldilocks," ungkap Dr Aline Vidotto. Hal ini harus kita pertimbangkan dalam pencarian planet layak huni sebab ternyata mencari planet mirip Bumi lebih sulit dari yang kita duga sebelumnya.

Tragedi Tunguska, Alien Pernah Selamatkan Bumi dari Kehancuran ?



Seorang ilmuwan Rusia mengatakan bahwa Alien berusaha melindungi Bumi pada peristiwa jatuhnya meteorit raksasa di Tunguska, Rusia 101 tahun yang lalu. Ilmuwan bernama Yuri Lavbin tersebut mengungkapkan bahwa ia berhasil menemukan kristal kuarsa di lokasi ledakan meteorit. Ia menemukan 10 buah kristal yang berlubang dan diyakini bahwa lubang tersebut merupakan lubang yang berfungsi untuk menyatukan kristal-kristal tersebut ke dalam rantai. Uniknya beberapa kristal diantaranya memiliki gambar dengan corak yang aneh. "Kami tidak memiliki teknologi yang dapat mencetak gambar semacam ini pada kristal," ungkap Lavbin. Selain kristal kuarsa, kami juga menemukan zat besi silikat yang tidak ada di Bumi. Besi silikat tersebut hanya ada di luar angkasa.



Ledakan besar di Tunguska terjadi pada 30 Juni 1908 dan sumber ledakannya sebenarnya masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini. Ledakan yang konon hampir setara dengan ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki Jepang tersebut meluluh lantakkan daerah seluas 2.150 kilometer persegi dan merubuhkan lebih kurang 60 juta pohon. Argumen yang paling kuat menyebutkan bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh jatuhnya meteorit raksasa berukuran beberapa puluh meter besarnya. Anehnya tidak ada kawah maupun serpihan meteorit yang ditemukan. Ilmuwan mengatakan bahwa meteorit tersebut meledak sebelum menyentuh tanah sekitar 5-10 km dan gelombang kejutnya menghancurkan daerah di sekitarnya.



Penemuan kristal kuarsa dalam sebuah ekspedisi pada tahun 2004 tersebut menurut Lavbin merupakan hal yang sangat luar biasa. Dan kabarnya batu kristal seberat 50 kg tersebut kini dibawa ke kota Krasnoyarsk untuk dipelajari dan dianalisis. Namun hingga saat ini belum ada publikasi tentang hasil dari analisis tersebut.
Berita lain mengatakan bahwa ledakan besar tersebut disebabkan oleh ledakan pesawat luar angkasa alien untuk melindungi Bumi dari ancaman. Hal itu diungkapkan oleh Insinyur asal Uni Soviet, Alexander Kazantsev pada tahun 1946. Lebih jelas ia mengatakan bahwa sebuah pesawat alien bertenaga nuklir sedang mencari air tawar di danau Tunguska namun kemudian meledak. Kemungkinan Kazantsev terinspirasi dari kunjungannya ke Hiroshima pda akhir tahun 1945.
Kembali ke kristal kuarsa tadi. Menurut Lavbin bila 10 batu kristal tadi disatukan maka akan membentuk sebuah peta yang menurutnya peta tersebut merupakan sistem navigasi dari sebuah pesawat luar angkasa. Hal yang mendukung teori Lavbin adalah ada gambar sosok alien pada batu tersebut. Adalah aneh jika ada foto seseorang pada batu tersebut, ungkap Lavbin
Satu hal yang masih menjadi misteri yaitu hasil analisi dari batu kristal tersebut yang hingga saat ini belum dipublikasikan...hemm kita tunggu saja.

[sumber:www.astronomi.us]

Alam Semesta Kita Pernah Menerobos Alam Semesta Lain



Para ilmuwan baru-baru ini menyatakan mereka menemukan bukti bahwa alam semesta di mana kita berada pada masa silam pernah mengalami “diterobos” oleh alam semesta paralel lain.
Menurut laporan Daily Mail, Inggris, Universitas London Institut Fisika dan Astronomi Stephen Feeney dan setelah melakukan studi terhadap latar belakang gelombang mikro kosmik (radiasi yang tersisa dari big bang) alam semesta, telah memperoleh kesimpulan mengejutkan. Tim mengatakan mereka telah menemukan bukti pola empat lingkaran konsentris yang ditemukan dalam latar belakang gelombang mikro kosmik, adalah “goresan alam semesta”. Ini menandakan alam semesta di mana kita berada setidaknya telah empat kali memasuki alam semesta paralel lainnya.
Penemuan ini berdasarkan teori pemuaian abadi alam semesta yang ada sekarang ini, juga dikenal sebagai teori Multi Alam Semesta. Teori ini berpendapat ruang yang luas dari alam semesta terbentuk oleh sangat banyak alam semesta independen, yang masing-masing alam semesta dapat memiliki sub-alam semesta dengan jumlah tidak terbatas. Alam semesta di mana kita hidup hanyalah salah satu jagad raya di alam semesta tak terhitung jumlahnya. Para ilmuwan percaya bahwa tabrakan antara alam semesta yang berbeda dapat meninggalkan jejak tertentu dalam radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik alam semesta.
Temuan tersebut saat ini masih kontroversial. Penerbitan makalah penelitian ini mendapat respon dan masukan dari sejumlah astronom yang menganggap apa yang dilihatnya dalam peta radiasi dengan latar belakang kosmik gelombang mikro terlalu dini untuk suatu kesimpulan.
Tim Feeney sendiri juga mengakui: “Dalam sebuah peta radiasi berlatar belakang gelombang mikro kosmik dari sedemikian besar database untuk mencari data statistik memang tidak selalu dapat diandalkan Namun jika dikonfirmasi untuk memiliki data yang dapat diandalkan untuk masa depan, membuktikan telah terjadi tabrakan antar alam semesta, maka kita bukan saja akan memiliki informasi alam semesta kita sendiri bahkan juga memperoleh informasi tentang alam semesta lain.”



Siklus kosmik tak pernah berhenti

Baru sebulan lalu, Vahe Gurzadyan dari Institut Fisika Yerevan Armenia dan seorang ahli fisika teoritis di Universitas Oxford, Inggris, Roger Penrose menerbitkan makalah penelitian bahwa bukti yang ditunjukkan satelit eksplorasi dari WMAP milik NASA Amerika Serikat menunjukkan waktu terjadinya radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik alam semesta jauh lebih awal daripada big bang (ledakan besar).
Ini menunjukkan waktu pembentukan alam semesta jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Penrose dan Gurzadyan mengatakan jejak yang ditinggalkan big bang sebelumnya, disimpan di dalam alam semesta pada latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB). Latar belakang gelombang mikro kosmis dewasa ini masih dalam kondisi 300.000 tahun setelah big bang, sehingga menyimpan informasi alam semesta awal. Bahkan, Penrose dan Gurzadyan kali ini menemukan adanya pola lingkar konsentris didalam latar belakang gelombang mikrokosmis.
Penrose menjelaskan, bahwa pola lingkar konsentris dalam CMB ini menandakan bahwa alam semesta adalah siklus abadi yang berkesinambungan. Hal ini berarti bahwa setiap siklus diakhiri dengan sebuah big bang atau ledakan yang menghasilkan “aeon” baru, yang merupakan siklus baru alam semesta, terus menerus bersirkulasi seperti itu. Aeon itu pada gilirannya lahir dalam big bang yang muncul dari ujung Aeon sebelumnya, dan seterusnya, menciptakan siklus potensial tak terbatas tanpa awal dan akhir.
Penrose menamai teorinya sebagai Conformal Cyclic Cosmology, dia percaya, alam semesta bukan berasal dari big bang tetapi melalui sebuah siklus abadi yang berkesinambungan. Setiap kali kiamat dimulai lagi dari awal, dengan konsistensi tingkat tinggi. Berhubung perkembangannya dan proses terbentuknya benda, alam semesta menjadi kurang bersatu. Jika waktu yang cukup panjang telah berlalu, semua materi pada akhirnya akan tersedot ke dalam lubang hitam.
Stephen Hawking telah membuktikan bahwa lubang hitam akhirnya hilang dalam hembusan ledakan radiasi. Proses ini akan meningkatkan kesatuan alam semesta yang pada akhirnya kembali ke tingkat awal alam semesta. Big bang yang terjadi pada 13,7 miliar tahun yang lalu, bukanlah awal dari segalanya, ia hanya yang terbaru dalam serangkaian big bang. Dan ketika alam semesta menjadi lelah, mereka akan membangun dunia kembali melalui big bang. (Sumber: epochtimes.co.id)

Astronom Temukan Planet Pengembara Dekat Sistem Tata Surya Kita

Planet pengembara atau planet kesepian(Rogue planets/ floating planets)yang melayang bebas tanpa bintang sangat menarik untuk diteliti. Planet-planet tersebut tidak mengorbit sebuah bintang maupun tergabung dalam suatu sistem tata surya melainkan benar-benar bebas melayang di alam semesta namun tetap mengelilingi pusat galaksi. Astronom mengatakan bahwa jumlah planet seperti ini banyaknya bisa melebihi jumlah bintang di galaksi Bima Sakti. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jumlahnya 100 ribu kali lebih banyak dari pada jumlah bintang di Bima Sakti. Baru-baru ini ditemukan sebuah planet pengembara yang letaknya tidak terlalu jauh dengan sistem tata surya kita sekitar 100 tahun cahaya. Tidak ada bintang yang dekat dengan planet tersebut namun tampaknya ada koneksi walaupun minim antara planet tersebut dengan kelompok bintang yang disebutAB Doradus Moving Group. Planet pengembara yang bernama CFBDSIR J214947.2-040.308,9 atau CFBDSIR2149 tersebut ditemukan menggunakanVery Large Telescopedi Chile danCanada-France-Hawaii Telescope. Sekelompok astronom yang dipimpin oleh Philippe Delorme dariInstitut de plan├ętologie et d’astrophysique de Grenoblesaat ini sedang mempelajari planet tersebut untuk mengkonfirmasi keadaaannya. Kelompok bintangAB Doradus Moving Groupmerupakan kelompok bintang yang terdekat dengan sistem tata surya kita. "Mencari planet disekitar bintang hampir sama dengan mencari kunang-kunang yang disorot oleh lampu mobil yang kuat," ucap Delorme. Objek yang mengambang bebeas seperti planet CFBDSIR2149 memberikan kesempatan kepada kita untuk mempelajari "kunang-kunang" tanpa terganggu oleh sinar lampu mobil yang menyilaukan," tambahnya. Planet CFBDSIR2149 diperkirakan telah terlempar dari sistem tata suryanya dan dimungkinkan dulu ia mengorbit sebuah bintang kerdil atau katai coklat dan saat ini planet ini seperti planet yatim piatu yang tidak memiliki orang tua. "Planet tanpa bintang seperti ini membuat kita memahami bagaimana sebuah planet dapat terlempar ke luar dari sistem tata suryanya," ungkap Delorme. Jika ternyata dari hasil penelitian ditemukan bahwa planet CFBDSIR2149 tidak ada hubungan dengan kelompok bintangAB Doradus Moving Group, maka akan lebih sulit untuk memastikan sifat dan kondisi planet tersebut. Tugas para astronom saat ini adalah mengkonfirmasi planet CFBDSIR2149 sebagai planet yang mengambang bebas," ujar Delorme. Objek ini dapat digunakan sebagai patokan untuk memahami fisika dari setiap eksoplanet yang sejenis yang ditemukan oleh instrumen yang dipasang di VLT(Very Large Telescope)di gurun Atacama, Chile.

NASA Akan Umumkan Penemuan Besar Curiosity di Mars

NASA dikabarkan akan mengumumkan sesuatu yang besar yang telah ditemukan oleh robot penjelajah Mars Curiosity. Penemuan besar tersebut dikabarkan akan menjadi salah satu bagian dari buku-buku sejarah ilmu pengetahuan umat manusia. Hal itu diungkapkan oleh salah satu peneliti utama misi Curiosity John Grotzinger. "kami mendapakan data dari SAM(Sample Analysis at Mars)dan data ini akan menjadi salah satu bagian dari buku-buku sejarah dan itu tampaknya benar-benar baik," ungkap Grotzinger. Namun NASA baru akan mengumumkan penemuan tersebut beberapa minggu ke depan. SAM yang menjadi salah satu instrumen penting di Curiosity dikabarkan telah mengkonfirmasi penemuan metana, hidrogen, oksigen, dan nitrogen di Mars yang berarti planet tersebut dahulu memang pernah mendukung kehidupan. Robot senilai 2,5 miliar dollar tersebut memang dikirm untuk mencari bukti-bukti adanya kehidupan di planet Mars dan tampaknya sudah membuahkan hasil. Kita tunggu saja pengumuman hasilnya beberapa minggu ke depan.

Wow, Astronomi di Indonesia Paling Maju se-Asia Tenggara


REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bambang Tedjasukmana mengklaim bahwa astronomi di Indonesia paling maju se-Asia Tenggara.
Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah observasi dan jumlah ahli astronomi di Indonesia.
"Terlebih dengan hadirnya UU Keantariksaan Nomor 21 tahun 2013. Payung hukum ini setidaknya semakin meningkatkan perkembangan astronomi dan keantariksaan di Indonesia,"kata dia saat membuka kegiatan International School for Young Astronomer 2013 di Kantor LAPAN, Bandung, Senin (26/8).
Di Asia Pasifik, kata dia, astronomi Indonesia juga semakin berkembang dan diminati banyak peneliti dari luar negeri.
Hal yang sama diungkap oleh Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN, Clara Y.Yatini. Menurutnya, astronomi semakin diminati masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya minat anak-anak sekolah yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai astronomi dan alam semesta. Mereka, kata dia, mencari tahu tentang antariksa, teknologi berbasis antariksa, bagaimana antariksa dan apa yang ada di dalamnya.
LAPAN, kata dia, sering kali membimbing anak sekolah dengan menyelenggarakan kegiatan seperti festival sains dan antariksa. "Dan peminat semakin meningkat setiap tahunnya. Sehingga kami menyiapkan mata ajaran yang terkait dengan alam semesta sekaligus praktiknya," kata dia.
Astronom asal Indonesia, ujarnya, juga sering kali berkancah di dunia internasional meskipun jumlahnya masih bisa dihitung oleh jari. Peningkatan lainnya juga dibuktikan dengan hadirnya planetarium di daerah-daerah. Ia mencontohkan, di Kalimantan Timur tepatnya di Tenggarong, sudah ada planetarium yang cukup modern untuk dinikmati masyarakat. Ia juga menyebutkan, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam juga telah memiliki planetarium.
Sayangnya, kata dia, belum ada lembaga pendidikan formal yang ada di daerah-daerah, sehingga, Bandung masih menjadi tujuan mahasiswa dan peneliti astronomi.
"Ketertarikan sudah banyak, sayang belum diformalkan menjadi sebuah lembaga pendidikan," kata dia.
Meskipun peminat ilmu astronomi meningkat, ujarnya, kurikulum sekolah tidak banyak menyinggung soal sains dan antariksa. Sehingga, sangat disayangkan apabila peminat banyak, namun pendidikan formal tidak menunjang untuk pengembangan keilmuan ini.
Perkembangan astronomi juga terhambat masalah klasik yakni dana. Sehingga, kata dia, astronomi kekurangan fasilitas dan pengadaan peralatan. "Yang bisa kita lakukan yakni tetap erusaha membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih mengetahui dan mencintai antariksa," kata dia.

Galaksi Terjauh dan Tertua di Alam Semesta




Dengan menggunakan data yang didapat dari teleskop Hubble dan teleskop Keck I diKeck Observatory, Hawai, astronom mengkonfirmasi bahwa mereka menemukan galaksi yang memecahkan rekor baru sebagai galaksi terjauh dan tertua yang pernah ditemukan di alam semesta. Galaksi yang disebut z8_GND_5296 terbentuk sekitar 700 juta tahun setelah Big Bang. Apa yang diamati oleh astronom saat ini adalah wujud dari galaksi itu pada 13,1 miliar tahun yang lalu.

"Hal yang paling penting dari apa yang kita lakukan adalah kita bisa belajar tentang apa yang ada diawal alam semesta," ungkap Steven Finkelstein dariUniversity of Texas. "karena kecepatan cahaya adalah konstan, cahaya membutuhkan waktu untuk sampai ke sini, kita tidak bisa melihat seperti apa bentuk galaksi ini sekarang.Apa yang kita lihat adalah bentuk galaksi ini pada 13 miliar tahun yang lalu yang merupakan 95% dari usia alam semesta ini" tambahnya.

Ada kemungkinan bahwa teleskop Hubble sudah menemukan galaksi lain yang lebih jauh lagi, namun galaksi z8_GND_5296 adalah galaksi paling jauh dan tertua saat ini yang sudah dikonfirmasi melalui pengamatan dengan instrumen lainnya, ungkap para ilmuwan. Survei CANDELS(Cosmic Assembly Near-infrared Deep Extragalactic Legacy)Hubble sejauh ini telah menemukan sekitar 100.000 galaksi dan mengobservasi 43 diantaranya.

Astronom menggunakan hidrogen untuk mengukur jarak galaksi. Tim meneliti garis emisi hidrogen dari 43 galaksi yang diobservasi dan yang terlihat adalah garis emisi hidrogen dari galaksi z8_GND_5296. Galaksi z8_GND_5296 mampu membentuk bintang 150 kali lebih cepat dari galaksi Bima Sakti. Tidak menutup kemungkinan rekor galaksi terjauh dan tertua akan terpecahkan kembali dimasa depan.

Saking Besarnya Gaya Gravitasi, Galaksi ini Bisa Berfungsi Sebagai Kaca Pembesar



Secara kebetulan teleskop Hubble berhasil menangkap sebuah obyek yang disebut J1000+0221 yang merupakan sebuah lensa gravitasi dari sebuah galaksi yang terletak 9 miliar tahun cahaya dari Bumi. Foto yang diambil oleh teleskop Hubble tersebut sebenarnya foto dari dua buah galaksi. Galaksi pertama adalah galaksi yang menciptakan efek lensa (seperti kaca pembesar) yang memperjelah tampilan dari galaksi yang berada sejalan dengannya namun lebih jauh lagi jaraknya. Ilmuwan NASA menyebut fenomena ini sebagai lensa gravitasi dan pertama kalinya fenomena ini diteorikan oleh fisikawan terkenal dunia, Albert Einstein. "Penemuan ini benar-benar secara kebetulan," ungkap Arjen van der Wel dariMax Planck Institute for Astronomydi Heidelberg, Jerman.
Tingkat keselarasan obyek J1000+0221 dengan galaksi dibelakangnya sangat sempurna sehingga bisa terbentuk "cincin" di sekitar obyek. Ilmuwan mengatakan bahwa hal ini sangatlah jarang dan mereka merasa begitu beruntung melihat fenomena ini. Lebih jauh ilmuwan mengungkapkan bahwa galaksi yang ada di belakang obyek J1000+0221 diperbesar 22 kali lipat oleh lensa gravitasi tersebut. Berikut adalah prinsip kerja bagaimana fenomena itu ada dan diamati oleh teleskop Hubble.

Diperkirakan galaksi lensa memiliki tingkat pembentukkan bintang yang sangat banyak sehingga mampu menciptakan gravitasi yang mampu berfungsi seperti kaca pembesar. "Ini adalah penemuan yang aneh dan menarik, dan itu benar-benar kebetulan. Ini akan menjadi bab baru dalam pengertian kita tentang evolusi galaksi di alam semesta pada masa lalu," tambah Arjen van der Wel.

Selain Saturnus, Planet Jupiter, Uranus, dan Neptunus Juga Punya Cincin

Selain Saturnus, ternyata ada beberapa planet di tata surya kita yang juga memiliki cincin. Planet Jupiter memiliki cincin yang sangat tipis dan gelap yang sering disebut dengan cincin Jovian. Cincin Jovian pertama kali diamati oleh wahana Voyager 1 pada tahun 1979. Cincin Jupiter terdiri dari empat lapisan utama dan kebanyakan terdiri dari debu.



Uranus bahkan memiliki sembilan cincin di sekitarnya yang juga sangat gelap. Cincin Uranus ditemukan pada 10 Maret 1977 oleh astronom James L. Elliot, Edward W. Dunham, dan Douglas J. Mink. Cincin Uranus berumur relatif muda yakni 600 juta tahun dan sebagian besar terdiri dari debu yang berasal dari tumbukan beberapa satelit alam yang pernah dimiliki planet tersebut.



Planet Neptunus juga memiliki cincin. Cincin Neptunus pertama kali ditemukan oleh astronom Patrice Bouchet, Reinhold Hafner dan Jean Manfroid pada tahun 1984 di Chili. Neptunus memiliki lima cincin yang mayoritas terdiri dari senyawa organik yang sangat gelap yang kemungkinan dihasilkan oleh proses radiasi tetapi ada juga beberapa bagian yang terang.



sumber:www.astronomi.us

Gemini Observatory Gunakan Teknik Baru untuk Foto Peluru Orion


Tim dari Gemini Observatory berhasil mengembangkan teknik pengambilan gambar obyek luar angkasa. Kali ini yang menjadi obyek pengambilan gambar mereka adalah bagian dari nebula Orionyang disebut "Peluru Orion" (Orion Bullets).
Nebula Orion sendiri merupakan nebula yang dapat dilihat walau dengan menggunakan mata telanjang. Hal itu disebabkan karena jaraknya yang relatif dekat dengan Bumi yaitu sekitar 24 tahun cahaya di konstelasi Orion. Foto terbaru yang dikembangkan oleh peneliti di Gemini Observatory merupakan hasil pengembangan dari metode pengambilan gambar sebelumnya yang disebut Altair. Altair merupakan salah satu instrumen di Gemini Observatory yang pada tahun 2007 lalu digunakan untuk mengambil foto dari "Peluru Orion".
Benoit Neichel selaku ilmuwan yang memimpin proyek pengembangan metode dan sistem dari Gemini Observatory mengatakan bahwa pihaknya selama beberapa tahun ini disibukkan dengan pengembangan sistem yang baru yang dimungkinkan untuk dapat mengambil gambar obyek langit secara lebih jelas. Sistem baru tersebut disebut dengan GeMS.
Hasilnya pada 28 Desember lalu, 3 hari sebelum tahun baru Gemini Observatory berhasil memotret Peluru Nebula dengan hasil yang menakjubkan. Fotonya 2,5 kali lebih halus dan 16 kali lebih detail.

Nebula IC 2220, Nebula yang Berbentuk Seperti Kupu-kupu


Nebula IC 2220 merupakan sebauh nebula yang terletak di sebelah selatan dari konstelasi Carina dan berjarak 1.200 tahun cahaya dari Bumi. Galaksi ini dikenal juga dengan sebutan nebula Toby Jug. Pemberian nama nebula ini dengan nama Toby Jug bukanlah tanpa alasan. Penemunya yakni astronom Inggris David Allen dan David Malen memberikan nama tersebut sebab nebula ini mirip dengan minuman Toby Jug yang mereka sukai saat mereka muda dulu.
Nebula IC 2220 terdiri dengan banyak awan dan debu yang disinari oleh sebuah bintang raksasa merah yang disebut HD 65750. Bintang ini memiliki massa lima kali dari massa Matahari kita namun usianya sebenarnya masih sangat muda yakni 50 juta tahun.
Nebula ini terbentuk sebagai akibat dari bintang yang kehilangan massa dan membentuk awan gas dan debu. Debu yang terbentuk terdiri dari unsur-unsur seperti karbon, titanium dan kalsium oksida. Selain itu ditemukan juga unsur silikon dioksida (silika) yang tampak memantulkan cahaya bintang.
Debu nebula IC 2220 memantulkan sinar yang datang dari bintang HD 65750 sehingga tampak membentuk seperti kupu-kupu. Struktur kupu-kupu yang ada di nebula IC 2220 hampir simetris dan memiliki panjang sekitar satu tahun cahaya. Persediaan hidrogen dari bintang itu hampir habis dan mulai membakar helium di luar inti karbon-oksigen sehingga ia mulai memasuki fase akhir dari hidupnya. Kelak Matahari kita juga akan seperti itu. Tapi itu baru akan terjadi miliaran tahun ke depan. Saat itu Matahari mulai membesar dan membentuk bintang raksasa merah sehingga suhu Bumi meningkat menjadi terlalu panas yang akhirnya menguapkan air di lautan dan pada fase akhir, planet Bumi akan meleleh dan hancur. Semua yang ada di alam semesta itu pasti ada awal dan akhir. Begitulah daur ulang alam semesta.

Nebula Bumerang, Tempat Paling Dingin di Alam Semesta


Astronom dengan menggunakan teleskop ALMA(Atacama Large Millimeter/submillimeter Array)di Chile mengambil foto terbaru dari nebula Bumerang(Boomerang Nebula)yang diyakini oleh astronom sebagai tempat sekaligus obyek paling dingin di alam semesta. Nebula Bumerang memiliki suhu sekitar minus 272 derajat Celcius. Astronom menjuluki nebula ini sebagai nebula 'hantu' disebabkan oleh bentuknya yang memang mirip seperti hantu :-).
Pada nebula ini tampak kabut putih ke luar dari pusatnya yang menyerupai jam pasir dan itu sebenarnya adalah debu berukuran milimeter yang tersinari oleh bintang yang ada di pusatnya. Nebula ini sendiri berjarak 5000 tahun cahaya dari Bumi dan terletak di konstelasiCentaurus. Nebula ini disebut juga sebagaiplanetary nebula(nebula planet) yang sebenarnya merupakan suatu fase akhir dari kehidupan bintang yang menyerupai Matahari kita yang sudah kehilangan sebagian massanya dan membentuk bintang katai (kerdil) putih yang memancarkan sinar ultraviolet kuat sehingga membuat gas yang ada di nebula menjadi ikut bersinar.

Jumlah Air di Bumi Tidak Sebanyak yang Kita Kira


Jika kita merasa bahwa jumlah air di Bumi itu sangat banyak dan melimpah, tampaknya Anda harus berpikir ulang. Jika semua air di Bumi dikumpulkan dan dibuat menjadi satu bola raksasa, maka ia akan menjadi sebesar apa? USGS(United States Geological Survey)akan menjawab pertanyaan tersebut.
Menurut USGS, jika semua air di Bumi disatukan dan dibentuk menjadi seperti Bola, maka akan menjadi Bola dengan ukuran diameter 860 mil (1.385 km), dan itu kurang lebih hanya sepertiga dari ukuran Bulan. Bahkan jika hanya air tawar saja yang dihitung, maka akan menjadi lebih kecil lagi yaitu hanya 100 mil (160 km) diameternya.
Ilustrasi tersebut dibuat oleh Jack Masak diWoods Hole Oceanographic Institutiontersebut dengan tidak merinci ukuran dan massa zat cair. Untuk diketahui bahwa jumlah air di Bumi mencapai 332.500.000 km kubik (1.386 kubik) (i mil kubik sama dengan 1.1 triliun galon). Namun dengan hipotesa bola, menjadi lebih dapat dipahami, apalagi ketika kita sudah biasa mengenal planet kita ini dengan dunia berair(watery world).
Anda bisa membaca lebih lanjut tentang hal ini di situs USGS disini.

Berapa Lama Lagi Bumi Bisa Mendukung Kehidupan ?? Ini Kata Ilmuwan


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan denganbasicilmu pengetahuan yang dimiliki, mereka menyimpulkan bahwa Bumi masih dapat mendukung kehidupan untuk setidaknya 1,75 miliar tahun dari sekarang dengan syarat tidak ada kejadian-kejadian yang mengancam kehidupan itu sendiri seperti perang dunia, perang nuklir maupun intervensi dari obyek lain dari luar Bumi seperi asteroid, komet atau apapun yang bisa mengancam berlangsungnya kehidupan di Bumi. Hal itu disampaikan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh, Andrew Rushby dariUniversity of East Anglia, Inggris.
Berdasarkan beberapa perkiraan tantang bagaimana kehidupan Bumi itu berakhir seperti yang diungkapkan oleh ilmuwan, dalam waktu 1,75 - 3,25 miliar tahun dari sekarang, Bumi akan berada dalam zona panas. Itu terjadi seiring dengan bertambah besarnya ukuran Matahari yang semakin tua dan membuat Bumi berjarak lebih dekat dengan Matahari. Zona panas tersebut akan membuat materi utama pendukung kehidupan seperti air akan menguap dan yang membuat peluang berlangsungnya kehidupan semakin tipis. Oleh sebab itu saat ini ilmuwan dan astronom fokus untuk mencari planet-planet terdekat dengan Bumi yang dimungkinkan bisa mendukung kehidupan. Sebagai solusi alternatif yang mudah dan cepat adalah planet Mars yang menurut para ilmuwan meskipun berada di sana akan terasa sangat sulit tapi bisa menjadi solusi paling cepat. Menurut mereka walaupun ketika itu Matahari sudah memasuki masa akhir dari kehidupannya dan menjadi bintang raksasa merah, posisi planet Mars masih berada dalam zona aman.
Secara matematis, ilmuwan menghitung bahwa secara keseluruhan Bumi bisa mendukung kehidupan dalam waktu 7,79 miliar tahun dan usianya saat ini sudah 4,5 miliar tahun. Sel sederhana mulai muncul di Bumi 4 miliar tahun lalu, diikuti oleh serangga dalam 400 juta tahun lalu, dinosaurus 300 juta tahun lalu, dan tanaman berbunga 130 juta tahun lalu. "Model manusia modern sudah ada dalam 200 ribu tahun lalu sehingga dibutuhkan waktu yang lama bagia kehidupan cerdas untuk berkembang," ucap Andrew Rushby.
Penelitian tentang hal ini dipublikasikan dalam jurnal astrobiologi bulan September 2013.

Wow !!! Jupiter dan Saturnus Punya Hujan Berlian



Ilmuwan planet, Mona L. Delitsky dariCalifornia Specialty Engineeringdan Kevin Baines dariUniversity of Wisconsin-Madison, baru-baru ini menyimpulkan bahwa di atmosfer planet Jupiter dan Saturnus terdapat banyak sekali berlian. Berlian itu merupakan hasil dari unsur karbon berupa grafit yang terbentuk dari badai petir yang pernah terjadi di planet tersebut. Tekanan dan suhu yang ekstrem khususnya di bagian bawah atmosfer, merubah berlian yang tadinya padat kemudian berubah wujud menjadi cair, sehingga di kedua planet itu bisa terjadi hujan berlian. Awalnya belian itu berwujud padat saat baru terbentuk dan jatuh dari bagian atas atmosfer dan semakin mendekati inti planet berlian itu pun mencair.
Sebelumnya para ilmuwan menduga bahwa berlian dalam bentuk padat mungkin ada dekat inti kedua planet itu. Namun kemudian mereka berpendapat bahwa hal itu tidak mungkin sebab planet Jupiter dan Saturnus dianggap terlalu panas yang dapat melelehkan berlian. Jadi kesimpulannya berlian berwujud padat ada di bagian atas atmosfer.. Ilmuwan planet Moda Delitsky dan Kevin Baines dalam buku mereka yang berjudulAlien Seasmereka menceritakan bahwa suatu saat nanti manusia akan membuat robot yang mampu mengumpulkan berlian dari Jupiter dan Saturnus untuk kemudian dibawa menuju ke Bumi.
Secara ilmiah proses terbentuknya berlian di kedua planet itu masih belum diketahui secara detail. Tapi di Bumi berlian terbentuk secara alami ketika karbon terpendam jauh di dalam tanah sekitar 160 km kemudian tertekan oleh panas hingga 1.093 derajat Celcius dan mengalami tekanan 725.000 pound perinci persegi yang kemudian bersamaan dengan magma bergerak ke permukaan untuk kemudian mendingin dan terbentuklah berlian.
Ketika berlian sudah begitu melimpah di alam semesta kemungkinan harganya juga akan turun dan tidak akan terlalu berharga lagi.

Dahsyatnya Sungai Api di Matahari, Suhunya 1 Juta Derajat Celcius


Pada bulan September lalu, wahana SDO(Solar Dynamics Observatory)NASA berhasil mengabadikan foto dahsyatnya lidah Matahari atau korona yang ke luar dari permukaan bintang tata surya kita itu. Saking dahsyatnya sampai-sampai di tepi korona itu tercipta sesuatu yang bisa disebut sebagai jurang atau sungai api walaupun sebenarnya Matahari bukan terbuat dari api tapi lebih seperti plasma yakni partikel elektron yang terpanaskan dengan suhu ekstrem yang menghasilkan gas yang berinteraksi dengan medan magnet. Bagian yang tampak seperti sungai api itu, panasnya sekitar 1 juta derajat Celcius.

Mau Kirim Robot Penjelajah ke Europa, NASA Dihadang Tajamnya Tombak Es


Tahun 2021 nanti NASA akan mengirimkan wahana pengorbit ke bulan Jupiter, Europa, untuk mencari tahu lebih detil seperti apa kondisi dipermukaannya sebelum mengirimkan robot pendarat ke sana. Europa dirasa sangat penting untuk diteliti sebab ilmuwan memperkirakan bahwa bulan Jupiter ini memiliki kemungkinan untuk mendukung terciptanya bentuk kehidupan. Salah satunya karena Europa memiliki samudera air berwujud cair di bawah permukaannya. Permukaan Europa sendiri sebagian besar ditutupi oleh es dan sebagian kecil tidak.
Untuk mengirimkan robot penjelajah ke sana tampaknya bukan pekerjaan yang mudah sebab ilmuwan menduga bahwa Europa memiliki permukaan yang sangat ekstrem. Pada permukaannya terdapat duri-duri es raksasa yang menyerupai tombak yang sangat tajam dan menghadap ke atas. Duri-duri es tersebut sangat membahayakan bagi wahana pendarat. Konon duri-duri es yang ada di Europa sedikit mirip dengan Penitentes yang ada di Chile. Penitentes adalah fitur es yang sangat tajam menyerupai duri atau tombak yang sangat tajam dan runcing. Diperkirakan penitentes yang ada di Europa dan berukuran sekitar lima meter tingginya yang tersebar di sekitar khatulistiwa Europa.
Sebagai misi awal, NASA akan mengirimkan wahana yang disebutEuropa Clipper Cruiseuntuk mempelajari lebih detil permukaan dari Europa untuk memudahkan mengirimkan robot pendarat pada misi berikutnya. "Ini seperti tantangangame," ungkap ilmuwan planet Don Blankenship dariUniversity of Texasyang terlibat dalam perencanaan NASA untuk mengirimkan wahana peneliti ke Europa.

Planet Kepler-78b, Planet Pertama yang Dikonfirmasi Memiliki Struktur Batuan Mirip Bumi


Astronom berhasil menemukan sebuah planet yang memiliki struktur batuan mirip seperti Bumi. Planet tersebut adalah Kepler-78b. Planet Kepler-78b juga mempunyai ukuran yang tidak jauh berbeda dengan Bumi yakni sekitar 1,7 kali massa Bumi dan 1,2 kali radius Bumi. Planet Kepler-78b mengorbit bintangnya dengan sangat cepat yaitu sekitar 8,5 jam saja. Itu membuat planet ini sangat tidak layak untuk mendukung adanya kehidupan dikarenakan suhunya terlalu panas. Namun banyak hal baru yang bisa diambil dari planet ini. Kepler-78b menjadi planet pertama yang dikonfirmasi memiliki ukuran dan massa yang hampir mirip dengan Bumi, dari situ ilmuwan bisa mengetahui tingkat kepadatan dan material penyusun planet tersebut. Diperkirakan mayoritas material penyusun Kepler-78b terdiri dari batu dan besi. Bintang dari planet ini sedikit lebih kecil dari Matahari kita dan berjarak 400 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Cygnus.
Planet Kepler-78b pertama kali diamati oleh teleskop pemburu planet, Kepler. Kemudian dengan menggunakan teleskop berbasis Bumi, astronom mempelajari periode kecepatan orbitnya. Tim astronom yang dipimpin oleh Andew Howard dariUniversity of Hawaiimelakukan pengamatan lebih intensif lagi dengan teleskop diKeck Observatorydan tim lainnya yang dipimpin oleh Francesco Pepe dariUniversity of Genevamengamatinya menggunakan teleskop di Observatorium La Palma di kepulauanCanary.
Direncanakan penelitian Kepler-78b akan dipresentasikan pada pertemuanKepler Science Conferencetanggal 4-8 November di Ames, Iowa, Amerika Serikat. Lebih dari 400 astrofisikawan dari Australia, China, Amerika, dan negara Amerika latin akan mengikuti konfrensi tersebut.

Mengenal cincin jupiter / cincin jovian


Selama ini kebanyakan orang hanya mengenal planet Saturnus sebagai satu-satunya planet di tata surya yang memiliki cincin, padahal pada kenyataannya planet-planet lain juga memilikinya seperti planet Jupiter, Uranus, dan Neptunus. Cincin Jupiter atau yang sering disebut juga dengan cincin Jovian, pertama kali diamati oleh wahana Voyager 1 pada tahun 1979 yang kemudian pada tahun 1990 cincin Jupiter mulai diteliti secara intensif. Selama 23 tahun terakhir, teleskop Hubble juga terus mengamati cincin planet Jupiter.
Cincin Jupiter tidak sepopuler cincin Saturnus yang kemungkinan disebabkan oleh penampakannya yang samar dan gelap. Cincin Jupiter sebagian besar terdiri dari debu dan memiliki empat bagian/ lapisan utama. Bagian utama dan bagian lain yang dikenal sebagai cincin halo, berasal dari satelit alam/ bulan Jupiter yakni Metis dan Adrastea serta obyek kecil lainnya. Berdasarkan data dari wahanaNew Horizonyang melintasi planet Jupiter pada tahun 2006 didapat informasi bahwa struktur utama dari cincin Jupiter merupakan struktur halus. Dengan menggunakan filter inframerah, bagian utama dari cincin (kecuali cincin halo) memiliki warna kemerahan. Cincin halo sendiri cenderung berwarna biru. Ukuran dari partikel debu yang ada pada cincin utama berariasi dan yang terbesar berukuran sekitar 15 meter. Sedangkan pada cincin halo, terdiri dari partikel debu yang sangat kecil yakni hanya berukuran beberapa mikro. Cincin lain dimungkinkan untuk ada di sekitar orbit bulan Himalia. Kemungkinan ada bulan kecil yang menabrak Himalia yang menyebabkan beberapa serpihan Himalia terhempas ke luar dan membentuk cincin Jupiter. Dua laipsan paling lebar dari cincin saturnus berada pada orbit bulan Amalthea dan Thebe.
Cincin Amalthea merupakan bagian dari cincin Jupiter yang sangat lebar namun juga sangat tipis. Lebar lapisan cincin ini sekitar 53 ribu km dengan tebal cincin 2300 km. rata-rata partikel debu yang ada pada bagian cincin ini berkisar antara 0,2-5 meter. Cincin Thebe adalah bagian terluar sekaligus menjadi bagian terlebar dari cincin Jupiter. Bagian cincin ini memiliki lebar 97 ribu km dengan ketebalan 8400 km. Berdasarkan laporan dari wahana luar angkasa Galileo pada tahun 2002-2003, ukuran partikel debu dari bagian lapisan ini tidak jauh beda dengan lapisan Thebe.
Selain keempat bagian atau lapisan cincin tadi, ternyata wahanaNew Horizonberhasil menemukan satu bagian lagi dari cincin Jupiter yang lebih kecil yang disebut cincin Himalia. Lapisan cincin ini adalah yang paling kecil yakni berdiameter 170 km.

Roket masa depan nasa di uji di trowongan angin


Dalam membuat suatu model kendaraan seperti roket, ilmuwan tidak harus melakukan pengujian dengan menerbangkan roket sungguhan ke langit tapi cukup dengan mensimulasikan penerbangannya di dalam terowongan angin. Hal itu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh angin terhadap model roket yang dibuat. Itulah yang dilakukan oleh NASA diNASA's Ames Research Centerdi Moffett Field, California dengan menguji desain roket masa depan mereka, SLS(Space Launch System).
Roket SLS sangatlah penting bagi NASA sebab roket itu adalah generasi penerus dari pesawat ulang alik yang mereka pensiunkan beberapa waktu lalu. Roket SLS diklaim memiliki kemampuan tinggi dengan biaya yang sangat murah dan hemat. Biaya yang hemat ini selanjutnya dapat digunakan untuk membiayai misi-misi NASA yang lain. Kemampuan SLS dengan kapsul Orion sebagai modulnya, dinilai mampu untuk membawa astronot menuju asteroid dan planet Mars dan misi-misi jauh lainnya.
tes diterowongan angin akan membuat para insiyur NASA mengetahui bagaimana pengaruh angin terhadap roket, seberapa besar model tersebut memiliki aerodinamika yang baik, seberapa besar getaran yang diterima roket dan batas toleransi yang bisa diterima dan sebagainya. Sebab bila roket mengalami getaran hebat maka akan sangat membahayakan. "Tes aeroakustik akan diselesaikan diNASA's Ames Research Centeruntuk meneliti ketidakstabilan aerodinamika," ungkap John Blevins selaku pemimpin departemen Aerodinamika dan akustik diNASA's Marshall Space Flight Center, Alabama.
Setidaknya ada empat variasi model kargo dan misi berawak dicoba dalam terowongan angin termasuk dengan mensimulasikan roket membawa kargo seberat 77 ton. Getaran yang muncul dari uji coba akan dianalisa. "karena getaran sangat terlokalisasi, maka ia dapat mempengaruhi bagaimana hardware pada roket dapat bekerja, ucap Andy Herron analis aeroakustik NASA. "Tugas kami adalah merancang sesuatu seperti kotak avionik. Kita akan menentukan bagimana perangkat keras atauhardwareditempatkan pada kendaraan agar tetap berfungsi dengan baik," tambah Andy.
Tes yang dilakukan daam terowongan angin sangat ekstrem. Roket SLS diuji dengan angin berkecepatan hingga 850 meter per detik. Harapannya calon roket terbesar di dunia itu bisa terbang dengan baik pada 2021 nanti.

Bintang

stars-1230-600x450.jpg

Bintang adalah benda langit luar angkasa yang memiliki ukuran besar dan memancarkan cahaya sebagai sumber cahaya.
Bintang yang terdekat dengan bumi adalah matahari, sedangkan Matahari sendiri dikelilingi oleh planet-planet anggota tata surya seperti pelanet bumi, merkurius, venus, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus dan jupiter.
Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir.
Oleh karena itulah bintang katai memiliki warna lebih putih dan bintang neutron yang sudah tak pernah memancarkan cahaya atau energi tetap disebut juga dengan bintang.
Matahari adalah jenis bintang yang terdekat dengan bumi, dimana Matahari memiliki jarak dengan bumi sekitar 149,680,000 kilometer serta diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus yang berjarak kurang lebih empat tahun cahaya.

Galaksi


Galaksi adalah sebuah sistem yang sangat besar, terdiri dari bintang-bintang dan materi antar bintang. Biasanya berisi beberapa triliun bintang triliun, dengan massa antara beberapa juta hingga beberapa triliun kali dari matahari kita. Dengan luas beberapa ribu hingga 100.000 tahun cahaya. Mereka memiliki berbagai macam bentuk: Spiral, lenticular, elips dan tidak teratur. Selain bintang sederhana, mereka biasanya berisi berbagai jenis gugus bintang dan nebula. Kita hidup dalam sebuah galaksi spiral raksasa, Galaksi Bima Sakti, dengan diameter 100.000 tahun cahaya dan matahari kita sebagai salah satu dari sekitar 100 miliaran bintang di galaksi Bima Sakti. Hanya tiga galaksi di luar Bima Sakti yang dapat terlihat dengan mata telanjang. Orang-orang di belahan bumi utara dapat melihat Galaksi Andromeda, yang berjarak sekitar 2 juta tahun cahaya. Orang-orang di belahan bumi selatan bisa melihat Large Magellanic Cloud, yang kurang lebih 160.000 tahun cahaya dari Bumi, dan Small Magellanic Cloud, yang berjarak sekitar 180.000 tahun cahaya. Galaksi terdistribusi tidak merata di ruang angkasa. Beberapa tidak memiliki tetangga dekat, namun ada juga yang berpasangan, dengan masing-masing mengorbit yang lain. Tapi kebanyakan dari mereka ditemukan dalam kelompok yang disebut cluster. Sekelompok galaksi mungkin terdiri dari beberapa lusin hingga beberapa ribu galaksi. Dengan diameter kira-kira sebesar 10 juta tahun cahaya. Kelompok galaksi, pada gilirannya, dikelompokkan dalam struktur yang lebih besar yang disebut superclusters. Pada skala yang lebih besar, galaksi tersebut diatur dalam jaringan besar. Jaringan yang saling berhubungan terdiri dari string atau filamen galaksi relatif kosong sekitar daerah yang dikenal sebagai void. Salah satu yang terbesar yang pernah memetakan struktur adalah jaringan galaksi yang dikenal sebagai Tembok Besar. Struktur ini lebih dari 500 juta tahun cahaya yang panjang dan 200 juta tahun cahaya lebar.